Ngetrip ke Dieng Part 2 : DIENG ”Beautiful, Misty and Mysterious”
- Deby Fransiska Hermawan
- May 5, 2017
- 4 min read
DIENG…..”Beautiful, Misty and Mysterious” magnet itulah yang selalu membuat saya ingin balik lagi kesana. Keelokan wajah dataran tinggi dieng yang tak pernah pudar, kabut tipis yang menyapa lembut kulit hingga dinginnya menusuk tulang dan kearifan budaya serta keramah tamahan penduduknya yang khas membuat semua orang yang pernah singgah didaerah ini merasa ingin kembali menyapa Dieng. Seperti saya yang datang untuk kali kedua mengunjungi dataran tinggi dieng. Tak ada yang berubah disini meski setahun silam telah berlalu, wisatawan dari berbagai daerah sangat exited untuk menjelajah Dieng lebih jauh, termasuk saya ini.
Oke…udah dulu ya sok puitisnya, hehe. Start dari terminal kampung rambutan, saya dan keempat teman saya menaiki bus jurusan purwokerto dengan harga tiket Rp 170.000 /orang, harga tiket bengkak gara-gara long weekend padahal harga normalnya cuma Rp 120.000. Perjalanan memakan waktu sekitar 24 jam karena macet (Rekor muri nih 24 jam di bus cuma sampe Purwokerto doang….wkwk), normalnya padahal cuma sekitar 7-8 jam perjalanan. Sesampainya di Purwokerto kita naik mobil elf menuju alun-alun wonosobo dengan ongkos Rp 20.000/orang, di alun-alun kita dijemput sama abang rental (yang sewain mobil) untuk menuju destinasi camp pertama kita yaitu di Telaga Cebong. Oya sebelum capcus kita borong duren dulu buat party duren di Telaga Cebong (Dingin-dingin makan duren dipinggir telaga matep cyiiin…hahaha).
Sesampainya di telaga cebong, kita langsung mendirikan tenda dan tidur karna jam setengah 3 malem nanti kita akan summit ke puncak sikunir ditambah suhu di telaga cebong yang dingin banget jadi gak ada keinginan lain lagi selain tidur hahaha….. Daaan pas bangun tidur, trus keluar dari tenda, You know apa yang kita liat? Milkyway…ya milkyway, setelah trip-trip sebelumnya gagal terus liat milkyway karna cuaca yang gak mendukung, trus sekarang bisa liat ya walopun cuma ditelaga, dan sebelum summit kita foto-foto dulu walopun hasilnya blur hehe…
Ternyata bener kata si bapak-bapak yang jaga toilet, kalo udah lewat jam 3 trek ke puncak sikunir pasti bakal padet merayap (Kaya jalan di Jakarta aja…hehe). Alhasil kita lewat jalur lain yang agak terjal dan cukup bikin lutut ngilu, tapi lumayan cepet karna cuma beberapa orang yang lewat jalur ini dan viewnya yang pasti lebih keren dari jalur biasa karna langsung menghadap ke telaga cebong.
Kurang dari 60 menit kita udah sampai di puncak sikunir, puncak ini dikenal dengan Golden Sunrise yang sangat menawan tapi sayang, tempat ini udah jadi cendol alias lautan manusia. Buat temen-temen Ngetripmuluu saya saranin kalo mau kesini jangan pas hari libur, kalo bisa malah weekday aja karna menurut saya puncak sikunir sangat bagus kalo gak cendol. Next, setelah kita kembali ke tenda trus masak dan sarapan kita langsung bongkar tenda sambil nungguin si abang rental jemput kita untuk menuju basecamp pendakian Gunung Prau lewat Patak Banteng.
Planning kita sebelum menuju basecamp patak banteng yaitu mampir ke Batu Ratapan Angin di Telaga Warna, tapi karna kabut mulai tebel jadi kita gak bisa kesana dan alhasil cuma bisa foto-foto di Sembungan Village aja. Kalian tau Sembungan Village? Itu loh Desa Tertinggi di Pulau Jawa.
Well, setelah retribusi simaksi pendakian gunung prau, saya dan teman-teman berdoa bersama lalu memulai pendakian (Oya biaya simaksinya 10 ribu perorang). Trek pertama yaitu perkampungan desa Patak Panteng, lalu sekitar 500 m kita melewati jalur persawahan dan setelah 30 menit pendakian dengan tanah yang licin karna habis ujan kita udah bisa melihat Pos 1 (Sikut Dewo). Disini terdapat persawahan dan gubuk kecil yang biasanya terdapat pedagang lokal yang berjualan. Dari pos satu dan pos lainnya memiliki ciri khas trek pendakian yang berbeda-beda mulai dari anak tangga, tanah licin (berdebu kalo musim kemarau), tanjakan berbatu, hutan lebat dan perbukitan. Seharusnya pendakian via Patak Banteng menuju puncak hanya memerlukan waktu 2-3 jam saja, tapi karna kondisi trek yang licin karna diguyur hujan dan banyaknya orang yang melakukan pendakian lewat jalur ini sehingga pendakian memakan waktu sekitar 5 jam.
Gunung Prau dengan ketinggian 2565 mdpl ini memiliki suhu hampir mencapai 0° C, dan lagi-lagi saya melewatkan milkyway yang cantik karna badan udah menggigil jadi saya memilih untuk masuk ke tenda. Tapi kita masih beruntung karna pagi harinya disambut dengan golden sunrise dan view gunung sindoro-sumbing yang sangat gagah. Gunung Prau memang salah satu gunung paling indah di Indonesia, selain yang saya sebutkan diatas gunung ini juga memiliki gugusan perbukitan yang sangat cantik yaitu bukit teletubis, juga terdapat beberapa jenis bunga cantik yang menghiasi gunung ini salah satunya ialah hamparan bunga Daisy.
Next, untuk sarapan pagi ini menu kita ialah pancake coklat, tapi sayang karna baru aja selesai bikin pancake, gerimis pun turun. Alhasil sarapan pun terburu-buru karna harus bongkar tenda sebelum kebanjiran (suruh siapa bikin tenda dijalur air…wkwk). Well, karna hijan tak kunjung reda akhirnya kita memutuskan untuk tetap turun walaupun kabut tebal dan suara petir terasa sangat dekat (Sedih banget karna belum explore bukit teletubis sama bunga daisy….hikshiks). Saya dan teman-teman lebih memilih turun via Dieng karna lebih landai walaupun treknnya licin sampai beberapa teman saya jatuh terpeleset (untung saya ngga pake adegan kepleset…wkwk).
Kalau menurut saya jalur Dieng itu lebih menarik, selain view kebun dan sawah penduduk juga terdapat hutan yang rindang dengan bentuk akar abstrak ditengah jalur serta ditepiannya terdapat bunga-bunga putih yang cantik (kesan eksotisnya dapet kalo buat foto prewed…wkwk), kawasan ini dinamakan Akar Cinta yang entah apa alasannya saya juga belum tau…hehe, dan jenis floranya pun sangat beragam serta view lembah yang menawan saat diselimuti kabut tipis. By the way ternyata turun via Dieng cepet juga…hehe, Oke sahabat Ngetripmuluu.wixsite.com sekian dulu petualangan saya di Dieng, mungkin next time pengen balik lagi…See uuuu next trip.
Comments